Showing posts with label oss. Show all posts
Showing posts with label oss. Show all posts

05 December 2009

Squid Proxy Authentication With PHP/MySQL

Many methods to do authentication in Squid, ie basic, ncsa, ntlm, kerberos, radius,.... But what about authenticate a user by looking in a MySQL table? More convenience if the language is PHP, as everybody language in the Web B-). So, after some quick googling results many clues, I picked one here and added some lines for data retrieval from MySQL. Here they are:
#!/usr/bin/php
mysql_connect("localhost","root","password");
if (! defined(STDIN)) {
        define("STDIN", fopen("php://stdin", "r"));
}
while (!feof(STDIN)) {
        $line = trim(fgets(STDIN));
        $fields = explode(' ', $line);
        $username = rawurldecode($fields[0]); //1738
        $password = rawurldecode($fields[1]); //1738
        $db=mysql("auth","select * from user where nama='$username' and passwd='$password'");
        if(mysql_num_rows($db)>0){
                fwrite(STDOUT, "OK\n");
        } else {
                // failed miserably
                fwrite(STDOUT, "ERR\n");
        }
}
?>

Very simple as we write. Next, chmod the script, eg auth.php with execute permission. Copy/move the script into any folder accessible by squid, just place it in /etc/squid is very well.

Edit /etc/squid/squid.conf, add the following lines:
auth_param basic program /etc/squid/auth.php
auth_param basic children 20
auth_param basic realm FKM HotSpot
auth_param basic credentialsttl 2 hours
auth_param basic casesensitive off

And allow only authenticated user:
acl AuthenticatedUsers proxy_auth REQUIRED
http_access allow AuthenticatedUsers
http_access deny all
Restart squid. One major drawback is we have to manually set the browser using the squid address and port, the authentication can't be done in a transparent proxy mode.

22 June 2009

Chromium Nightly Build on Jaunty

Resminya, google belum mengeluarkan versi release dari Chrome untuk linux maupun Mac (Chromium di Linux/Mac), namun ternyata kita bisa memanfaatkan nightly buildnya yang tiap hari terus berubah. Juga ternyata kita tidak perlu kompilasi sendiri untuk mendapatkannya. Manfaatkan build yang sudah jadi binary jauh lebih mudah....

Unduh dulu dari sini, terus extract, dan jalankan filenya (chrome), busyeett! dua detik langsung muncul jendela chrome! Otomatis browsing sana-sini jadi cepet.

Kalau biasanya firefox (3.0.10) perlu waktu hingga 10 detik untuk loading, maka kecepatan loading chrome terbilang amat cepat, 2 detik doang!

Berikut adalah tampilannya:

Satu-satunya masalah (nggak masalah sih) adalah tampilannya yang kurang sesuai dengan tema keseluruhan jaunty, aneh saja, gabungan antara biru dengan coklat-orange. Tapi itu nanti...

Satu lagi, flash plugin belum tersedia kayaknya...

Update: Untuk menyelaraskan tampilan, maka sekarang aku pakai clearlooks yang serba biru, cocok dengan karakter chromium :)

09 June 2009

Turbo Mode on Opera 10 Beta, jaunty

Menggunakan opera 10 beta sekarang menyenangkan, soalnya tersedia mode turbo, yang mana akan menaikkan kecepatan cukup signifikan, terutama jika koneksi internet lambat, lewat DUN, atau broadband 3G over GPRS :(, karena tidak terkover signal 3G seperti dirumahku.

Turbo mode akan aktif ketika opera menemukan bahwa kecepatan terlalu rendah, selanjutnya tinggal mengatur lewat klik di ikon pojok kiri bawah, dekat status bar. Ikon ditandai dengan gambar speedometer dan faktor pengalinya, misalnya x4, x3, dst.

31 May 2009

Jaunty: Nvidia GeForce4 MX 4000 (NV18) I/O Error Solved!

Recently installed Jaunty into my home PC (simple 2.4/80/1/128), succeeded, but the nvidia card needed some specific driver, if not I ended with plain 800x600 generic vesa mode. So, simply installed via synaptic the nvidia-96* packages. Rebooted, still no luck. It reported that /dev/nvidia0 couldn't be opened, because some input/output error. Googled, there were bunch of pages, but no pointer to some working solution. Visited ubuntuforum either, still no clue. Commonly just stated it's related with permission, user group, udev, etc. But no. I was root at that time, so no permission issue here.

Googled again, until I hit this link, and all was set correctly. The only difference is boot parameter: noapic acpi=off pci=noacpi. The xorg.conf itself doesn't change too much, except replace nv or add a line contains driver "nvidia".

24 April 2009

Konversi SHP ke MAP

Format peta digital pada umumnya adalah SHP dari ESRI, sedangkan format untuk mapserver adalah MAP, padahal MAP ini sebenarnya hanya file yang berisi properti dan informasi, yang pada dasarnya masih memerlukan file SHP juga.

Dulu sekali aku menggunakan QuantumGIS untuk konversi atau tepatnya mengeksport project file dari QGIS (yang berisi layer dari SHP) ke Mapfile, waktu itu versi Qgis adalah 0.8. Sekarang, setelah versi 1.0.1 (Kore), ternyata opsi export ke mapfile malah tidak ada! Adanya adalah sekumpulan plugin, yang semula kuduga bisa untuk generate mapfile, ternyata sampai saat ini belum bisa.

Biasa, googling sana-sini dengan berbagai keyword, akhirnya ketemu dengan keyword qgis to mapserver, akan membawa kita ke sini. Ternyata konversi qgis project ke mapserver file sekarang dipisahkan menjadi aplikasi stand-alone. Pantas saja!

Nah, untuk versi Linux ternyata harus menarik sourcenya, sedangkan yang windows dan macos sudah ada binarynya. Maka, diperlukan program semacam svn, yaitu git. Langkahnya adalah dengan #apt-get install git-core, lalu # git clone git://spatialserver.net/mapserver_export.git

Setelah itu, masuk ke folder mapserver_export, lalu jalankan make seperti biasa. Wah. lagi-lagi kurang toolsnya, maka perlu install dulu # apt-get install pyqt4-dev-tools. Setelah itu baru jalankan programnya lewat konsol: #./qgistomapserver.py, akan muncul jendela seperti ini:

Dari file Map yang dihasilkan, nantinya tinggal dipanggil lewat ka-map, pmapper, chameleon atau yang lainnya, atau koding langung dengan bantuan php_mapscript

25 March 2009

Praktikum OpenMeetings

Berhari-hari pusing download, install, download lagi versi lain, install lagi, berbagai versi Red5 dan OpenMeetings, namun juga tak kunjung sakses. Pesan error bervariasi, mulai dari 404, hingga 500, yang pada intinya aplikasi tidak bisa berjalan. Pada tahap akhir, installer sempat muncul, tetapi proses installasinya yang cukup lama, hingga bahkan hingga komputer hang, masih belum kelar.

Coba dengan pendekatan lain: download versi lengkapnya, extract lalu jalankan! Tidak perlu download Red5, karena sudah termasuk di dalam paket OpenMeetings.

Berikut langkah-langkah instalasinya:

  1. Download dan jalankan Xampplite saja. Jalankan dulu hingga yakin apache dan mysql berjalan, soalnya jika red5 sudah jalan, apache tidak mau berjalan.
  2. Lewat phpmyadmin, buat database kosongan bernama openmeetings
  3. Download dan install JRE/JDK 1.6
  4. Download openmeeting versi terakhir disini, yang komplete, bukan yang webapps only
  5. Extract openmeetings_xxx.zip
  6. Set JAVA_HOME lewat klik kanan my computer, properties, advanced, startup and recovery, environment variable. Klik new, tulis JAVA_HOME, lalu isikan nilainya dari lokasi JRE/JDK di program files.
  7. Masuk ke folder ekstrakan openmeetings, lalu jalankan red5.bat
  8. Buka di http://localhost:5080/openmeetings/install, ikuti prosedurnya, agak lama sih
  9. Selesai, masuk ke aplikasi, daftar dan login.
Pada mesin Linux, mestinya langkahnya sama saja, cuma karena sedang berada di kantor, dan kebetulan memakai laptop kantor yang belum ada linuxnya.

Update:
Ternyata dengan metode kopi-paste, aplikasi OpenMeetings sakses dijalankan di AAO Linux, dengan sun-java-jdk 6, extract dan run red5.sh, langsung jalan dengan lancar. Berikut adalah cuplikan gambarnya:

Video dan audio dari WebCam dan Mic bisa masuk, tetapi di cuplikan tersebut fitur dimatikan.

18 November 2008

Lite Web Server

Mengingat netbook AA1 menggunakan SSD yang performanya nggak begitu bagus, maka semua aplikasi dipilih yang ringan saja, termasuk untuk development, maka disini cukup dipasang geany, bluefish, kompozer, mysql dan lighttpd. Kemarin denger-denger ada web server yang ringan, yaitu nginx dan cherokee, keduanya ada di repo intrepid. Langsung apt-get install, dan dalam dua menit, semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Konfigurasi cherokee cukup mudah, karena sudah dilakukan secara web based, dengan terlebih dulu menjalankan cherokee-admin dari konsol.

Beberapa setting cukup unfimiliar, karena itu aku ambil jalan pintas, kopi paste dari default. Kinerja dari cherokee aku rasakan lebih cepat dibanding lighttpd untuk aplikasi yang sama.

Nginx, belum dicoba lebih jauh, cuma sebatas akses localhost saja

04 November 2008

Intrepid on AAO 110L

Sudah sebulanan aku ganti Eee 900 dengan AAO 110L. Awalnya Lontara remix yang aku pasang di Eee aku kopi paste ke AAO, dan semua berjalan dengan normal menggunakan kernel kompilasi khusus Eee yang disediakan oleh http://array.org

Setelah Intrepid launching, maka segera aku upgrade, error sana-sini, partial upgrade, karena bukan dari hardy, but lontara although both of them use the same repos. Akhirnya tinimbang repot, do fresh install wae.

Proses install amat lama, 3 jam kurang lebih, karena aku nggak memakai LiveCD, yang mana akan jauh lebih cepat, as a matter of copy and paste. Kalau memakai ubuntu installer standar, maka yang terjadi bukan kopi paste saja, tetapi konfigurasi masing-masing paket. Nah, jika jumlah paketnya ribuan, kebayang kan, berapa lamanya?

Nah lagi, aku sarankan, pakai saja model LiveCD!

Setelah semua berakhir, ternyata prosesnya aku rasakan jauh lebih gegas berjalan di Intrepid. Dengan kernel bawaan, ternyata driver wireless nggak ada lagi (ath5k), konon dicabut dari intrepid karena bermasalah pada beberapa mesin. Yah, kembali ke kernel Eee lagi deh.

Setelah masuk ke forum aces aspire one user, aku download custom kernel build for N270, khususon buat AAO, semuanya lancar, meskipun setelah stanby, speaker jadi mati, kalau mau dengerin musik atawa lihat film, harus pakai headphone atau external speaker. Tetapi kinerjanya memang memuaskan, booting cuma 10 detik, langsung masuk ke Xorg, tinggal login saja siap kerja. Oia, desktop aku pakai LXDE yang gegas dan dari tampilan cukup meyakinkan. Beberapa applet masih aku ambil dari gnome, misalnya power manager dan network manager.

Sempat bingung, karena dengan LXDE, semua font looks so ugly, misalnya di firefox, kalau font nggak kebesaran malah kekecilan. Pasang gtk-chteme setting font sendiri tidak membantu, pun juga dengan gtk-theme-switch, juga sami mawon: nggak ngefek. Googling sana-sini, akhirnya harus tweak userChrome.css manual, setting font dan ukurannya dengan dipaksakan. Hasilnya lumayan baguslah, tapi tetap tidak proporsional.

Openbox juga berperilaku sama, kalau nggak kebesaran ya kekecilan. ObConf cukup membantu sih, sampai akhirnya ketemu masalah utamanya: DPI di AAO memang tinggi, yakni 135 atau berapa gitu. Makanya, kuncinya adalah menyetel pada DPI 96 saja. Setelah DPI diturunkan, semua menjadi normal dan proporsional....

Aku memakai SLIM sebagai login manager, jadinya mengatur DPI amat gampil, cari saja di /etc/slim.conf, komentarnya amat membantu..

Partisi /home aku tetapkan pada SDcard 4GiB yang terpasang di card-reader sebelah kiri. Mestinya sebelah kanan, soalnya reader yang kanan baru mengenali card jika card ybs dimasukkan pada saat komputer boot. Suck juga sih, tapi karena jika memakai reader yang sebelah kanan SD card jadi menonjol, makanya aku pasang di sebelah kiri. Mungkin kalau pakai mini SD pas kali ya.

Katanya MMC/SD jika di standby akan tidak dimount, sehingga bisa merusak data, tetapi so far so good tuh. Sehabis standby, partisi /home tetap termounting tuh, memang USB flash disk dan card yang kanan tidak termounting, mungkin karena partisi /home ditentukan di /etc/fstab kali ya.

Anyway, so far so good, kapan-kapan aku bahas beberapa program yang aku install di AAO ini, dan space yang dipakai

11 September 2008

Akhirnya bisa pake Google Chrome on Blankon Remix

Kemarin sore coba-coba kopi hasil instalan Google Chrome di komputer lain (Windows OS), lalu coba buka pakai Wine, ternyata gatot, a.k.a gagal total!

Setelah baca-baca planet ubuntu HacksZine, ternyata ada caranya di sini nih!

Semua prosedur dijalankan, pertama wine dicari di getdeb.net, lainnya mengikuti panduan. Sukses sih, tapi tampilannya nggak begitu bagus sih, dan mungkin karena memang masih dalam pengembangan, beberapa situs yang tak coba kunjungi melaporkan adanya galat yang tidak diketahui, misalnya login ke blogger, yang notabene adalah service google sendiri :p

Btw, berikut adalah cuplikannya:

08 September 2008

WD external HDD, suck

Bonus external SATA 160GiB yang kemarin ntu tuh, baru kemarin broken. Anjrit tenan... Apakah karena sering tak bawa kesana-kemari? Mungkin saja...

Tapi yang namanya portabel kan mesti dibawa-bawa toh? Buktinya portabel HDD lain milik teman-teman beres-beres aja tuh :(

Kalau tak lihat-lihat, ternyata memang materi WD nggak begitu kuat sih, dipencet sana-sini sepertinya terkesan mau penyok!. HDD aku yang lama, Hitachi dan Toshiba, dipencet-pencet nggak melesek tuh... Anjrit sekali lagi.

Payahnya, bonus WD itu tidak termasuk dalam garansi 1 tahun. Vendornya mengatakan bahwa yang digaransi hanya Eee nya saja.

Untuk mengobati hati yang kesal (puasa tidak kuasa menahan kesal), aku iseng-iseng mengkompress folder /usr ke dalam Squashfs. Aku coba berkali-kali selalu mentok di angka 54%. Ditinggal lama, barangkali memang prosesnya lama, tidak juga menunjukkan progress.

Akhirnya aku pecah dua, yakni /usr/bin dikompress ke /.fs/bin.sfs dan /usr/share ke /.fs/share.sfs. Hasil akhirnya cukup fantastis. Dari semula instalasi memakan space 2,7GiB, setelahnya menjadi 1,7 GiB! Artinya, hasil akhir ini dapat dimasukkan ke Eee 700 milik my beloved wife :) yang cuma 2GiB.

Aplikasi? Wah, banyak bung... Mulai dari OpenOffice 2.4, Vym, Liferea, Ekiga, Tomboy, Rhytmbox, VLC, Totem, Notecase, qOrganizer, dll. Pokoknya semua bawaan Lontara minus Evolution dan Planner. Evolution aku pikir aku nggak perlu, dan planner bisa ditangani oleh qOrganizer atau malah Tomboy. Masih kurang untuk development? Untungnya paket build-essential, Geany dan XML-editor sudah aku masukkan, termasuk lighttpd, php dan mysql. Pokoknya komplt dah! Puas pokoknya...

jadinya, mesin kecil nggak harus pakai distro kecil macam puppy atau slax, bisa saja pakai lontara atau hardy heron standar, cuma yang mesti diingat adalah kernel yang harus diganti dengan versi Eee, supaya semua hardware berjalan dengan lancar. Kadang untuk mencapai ukuran kecil, orang-orang sering juga menggunakan WM yang ringan, semisal openbox atau XFCE.

Oia, untuk mencapai space sekecil itu, selain squashfs, aku hapus juga /usr/share/doc dan /usr/share/man, wong kedua tempat itu nyaris tidak pernah aku gunakan ...:)

Terakhir, semalam aku ganti OEM logo BIOS, jadinya citarasa Maz Solie, dan sedikit string di BIOS juga aku ubah dikit... Iseng-iseng aja, caranya mudah, donlot aja paket AMItool/MMtool. Berikut file bitmap yang aku masukkan menjadi splash boot yang baru:


Itu gambar harus BMP 640x480 16 color... aku coba warna hitam total dengan tulisan kuning/merah, tidak muncul sama sekali, ya akhirnya jadi seperti itu.

25 January 2008

Hardy

Beberapa hari memakai hardy, hasil dist-upgrade from gutsy (fluxbuntu). Secara iseng pasang KDE 4, yang ternyata sudah ada di repo-nya. Setelah beres semua, ctrl-alt-bkspc, login dengan session KDE 4.

Splash screen.... beda dari yang dulu-dulu, tapi nggak ada kejutan...
Desktop .... Wah, apa itu di bawah (taskbar)? Taskbarnya gede amat yah? Coba klik sana-sini, wow, asik juga dab!

Tampilannya smooth dan keren, nyaris mirip MacOSX, meskipun belum semua dicoba (terutama efek-efeknya). Konqueror yang sebelumnya adalah juga File Manager dan Web Browser, sekarang cukup sebagai Web Browser saja, karena sudah ada Dolphin. Untuk viewer ditangani oleh Okular, mencakup PDF, PS,CHM, praktis.

Iseng-iseng pada taskbar (panel), aku hapus salah satu widget, yakni removable device monitor, terus coba-coba setting panel, walah malah nggak ada panel konfignya! Setelah googling, ternyata beberapa user juga mengeluhkan hal yang sama, yakni konfigurasi untuk ini-itu nggak (belum) ada. Akhirnya untung-untungan klik ikon add widget yang ada di desktop, terus seret ke panel (taskbar), eh malah bisa...

Weleh-weleh, kalo begini jadi pingin ganti laptop nih....

19 November 2007

Metisse on Slackware

Metisse, baru kemarin dengar what's that?? Adalah sejenis compiz or beryl, tapi efek-efek yang ditampilkan jauh lebih manteb pol. Misalnya window tertentu bisa dimiringkan ke kiri dan kekanan, diputar sekian derajat dlsb. Untuk jelasnya, silahkan donlot, bakar dan install MandrivaOne 2008.0 yang cuma se-CD itu, lalu pilih Metisse waktu masuk.

Nah, karena kemarin aku coba di desktop kantor yang pakai dualcore 3GHz dengan RAM 1 GiB dan Nvidia 256MiB, maka begitu aku install di Slackware/Zenwalk current di laptop, maka langsung drop, meskipun masih bisa jalan. Efek-efek tetap memukau, namun tentu saja kemunculannya lambat.

Untuk solusi lebih ringan, coba saja gunakan FVWM Crystal, yang mana dulu sekali pernah aku coba di laptop, dan mungkin juga sudah tak tulis di blog ini.

24 August 2007

Rame-rame Grebekan

Weleh-weleh, dua bulan nggak ngeblog....

Pekan-pekan terakhir marak dengan adanya issu penggerebekan terhadap sejumlah lembaga, instansi dan perusahaan. Tentu saja, ini lagi-lagi soal HAKI, dan khususon, software-software bajakan dan film/lagu bajakan.

Temanku yang buka usaha rental VCD/DVD langsung mengamankan kopian CDnya, so yang disewakan hanya yang orisinil saja, yang tentu kebanyakan film-film lama.

Beberapa rental pengetikan --apa lagi yang dipinggir jalan besar-- tutup. Beberapa berinisiatif menginstall Linux.

Sekolah-sekolah, instansi pemerintah, kabarnya juga dirazia, nggak tahu apakah kepolisian juga dirazia, atau malah paling duluan....

Maka itu, kemarin dulu seorang teman kakakku minta petunjuk sebaiknya memakai Linux apa yang transisinya cepat dan tidak merepotkan.

Aku menawarkan beberapa solusi. Pertama, untuk hardware kuno, P2 kebawah, maka yang cocok adalah Puppy Linux. Aplikasi termasuk lengkap dan juga ringan, bahkan untuk komputer ''kere'' sekalipun. Hanya saja konsep mount/unmount perlu diperhatikan, termasuk minus kemampuan si Puppy untuk mount otomatis Flashdisk or CDROM yang barusan nancap ke sistem. Untungnya, mount/unmount tidak lagi liwat konsol, alih-alih dibuatkan sebuah aplikasi mounter kecil yang nyaman.

Kedua, untuk komputer kelas menengah ke atas, aku menyarankan dengan PCLinuxOS 2007, atau versi berapapun. Linux ini amat cocok dipakai sebagai desktop OS, mengingat dibekali seabrek aplikasi dan tool-tool yang diperlukan untuk kegiatan kantoran. Sebut saja OpenOffice, HPLIP, Gimp, dll. Sifatnya LiveCD, namun untuk kegiatan kantoran aku menganjurkan agar diinstall permanen dalam partisi tersendiri. Aku sekarang juga memakai PCLinuxOS ini, dengan banyak aplikasi ''colongan'' dari ZenWalk/Slackware, mengingat ukuran Zenwalk mencapai 9 GiB sekarang ini. Tentunya donlot langsung dari repos Mandriva/PCLinuxOS amat menyita waktu, dan juga memang koneksinya saat ini amat payah....

Komputer kakakku kemarin aku tambah RAM 128 MiB menjadi 192 MiB, dengan VGA Matrox 4 M dan CPU P2 400, harddisk 20 GiB, ternyata PCLinuxOS berjalan dengan nyaman. Memutar musik liwat amarok, sekaligus generate beberapa logo liwat Gimp, juga startup OpenOffice, nyatanya musik yang keluar nggak putus-putus tuh. That's it, HP Vectra jadul itu lho.... Emang keren yang namanya komputer pabrikan, bung. Jangan salah, PCLinuxOS make KDE lho, bukan Xfce, Icewm atau Box.

Ketiga, untuk transfer cepat tanpa perlu repot partisi, bekap data, dll., aku menyarankan memakai Knoppix dan atau Dynebolic. Keduanya bisa dikopi langsung ke partisi windows, jadinya nggak perlu takut-takut salah partisi. Untuk booting, jika cerdik bisa menginstall grub, meskipun nggak ada partisi linuxnya. Laptopku settingan grub aku taruh di partisi FAT32, soalnya posisinya udah fix, kalo ditaruh di salah satu partisi linux, nanti malah nggak mau booting, soalnya aku akn sering tuh install linux ini-itu, yang akibatnya urutan partisi logis di disk menjadi berubah-ubah juga.

Cara cepat install grub, kopikan folder boot berikut subfolder grub ke drive D misalnya, lalu dengan bantuan liveCD, masuk ke grub dan tinggal install saja:

grub> root (hd0,4)
grub> setup (hd0)
Selesai. Nanti jika ada tambahan linux di partisi lain, tinggal edit konfigurasi grub yang ada di drive D (\boot\grub\menu.lst). Laptopku saat ini didiami oleh PCLOS, Zenwalk, Puppy, Grafpup, Dynebolic, dan Knoppix. Partisi aktual yang dipakai cuma milik PCLOS dan Zenwalk, lainnya numpang di partisi NTFS.

Jika nggak mau repot, atau belum bisa install dan utak-atik GRUB, amannya pakai CDROM ybs untuk booting ke Linux. Misalnya kalau knoppix harus menghafal serangkaian mantra:
boot: knoppix fromhd=/dev/hda5 myconfig=/dev/hda5
Jika puppy atau grafpup hampir sama:
puppy PMEDIA=idehd
Nah, jika memakai GRUB, kerumitan tadi bisa dihilangkan. Untuk memasukkan parameter yang pas dan mapan, perlu melihat ke isolinux.cfg, lalu tinggal kopi paste saja ke menu.lst milik GRUB.

Nah lagi, dynebolic jauh lebih cerdik. Untuk memboot linux yang dikopi ke partisi FAT/NTFS, kita nggak perlu memasukkan parameter apapun. Jadi untuk masuk ke Linux dynebolic, cukup masukkan CD ke CDROM drive dan booting liwat CD. Nantinya dynebolic akan mencari disetiap partisi, apakah ada folder dyne dan ''nest'' di salah satu partisi? Jika ada, maka akan dimuat setelah konfirmasi ke kita, atau otomatis setelah 10 detik.

Dari dulu sejak versi perdana, aku kagum sama d:b ini, apalagi sekarang sudah versi 2.4.2 dengan XFCE sebagai window managernya. Dynebolic ditujukan untuk multimedia performance, jadi dengan sekeping CD ini, kamu sudah bisa buat stasiun TV dan Radio internet tanpa berlama-lama pusing memikirkan ini-itu, software ini-itu, dll.

Jadi, dengan teknologi liveCD sekarang ini, kita bisa menginstall banyak Linux sekaligus tanpa takut-takut buang partisi, resize partisi dll. Cukup kopikan main folder yang dibutuhkan ke salah satu partisi yang ada, lalu panggil GRUB untuk menjalankan semuanya.

30 June 2007

Firefox Plugin: FullerScreen

Seperti telah diketahui bersama bahwa Firefox dapat menjalankan mode Fullscreen dengan menekan tombol F11 seperti di IE, tetapi sayangnya tidak bisa benar-benar fullscreen, soalnya tab-bar dan address-bar masih kelihatan. Bisa saja menghilangkan keduanya dengan mengatur menu-menu yang bersangkutan, tetapi ini tentu saja amat merepotkan.

Tetapi kenapa kita memerlukan mode fullscreen? Hmm, banyak. Pertama, misalnya dibuat kiosk mode, dimana komputer dikunci pada aplikasi Firefox saja, user tidak perlu kemana-mana. Kedua, sebagai sarana presentasi. Di Linux tersedia beberapa solusi presentasi, misalnya melalui Office Suite atau bisa dengan browser, menggunakan teknik S5 dari Eric Meyer. Ketiga, untuk semata-mata browsing, sehingga objek lain yang tidak perlu dihilangkan saja dari layar. Lainnya, cari sendiri kenapa perlu fullscreen.

Nah, dengan add-on atau plugin FullerScreen, selain firefox benar-benar berjalan fullscreen, ia juga menyediakan fasilitas presentasi, dan lebih mudah tinimbang S5-nya Eric Meyer, karena kita tidak memerlukan JS tambahan pada dokumen kita.

Buat yang penasaran, silahkan donlot add-on-nya di https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/4650, dan contoh dokumen ada di http://disruptive-innovations.com/zoo/fullerscreen/samples/

Jika addon sudah diaktifkan, maka buka salah satu sampelnya, lalu tekan saja F11.

13 June 2007

Linux WiFi connection via Console

Linux sudah mendukung WiFi sejak lama, bahkan untuk device-device yang belum ada drivernya, Linux menyediakan ndiswrapper yang menjembatani penggunaan driver Windows sedemikian sehingga bisa dipakai di Linux.

Tentu saja, kernel harus sudah mendukung wireless extension, tanpa itu, meskipun kartu wifi dan modulnya sudah ada dan diload, wifi tetap tidak bisa digunakan.

Beberapa distro menyertakan setting untuk koneksi wifi secara GUI, misalnya puppyLinux, atau yang aku pakai sekarang adalah GrafPup 2.0 final. Lucunya, meskipun interface untuk setting wifi sudah ada lewat ControlPanel, namun ternyata si kernel malah tidak mendukung wireless, jadi totally useless!

Sekarang, bagaimana caranya mengenali apakah kernel linux sudah mendukung ekstensi wireless atau belum?

Jalankan saja perintah berikut (setelah saklar wifi dinyalakan):

solie@myBox # iwconfig
Jika yang ditemukan adalah no wireless extension, maka kernel harus dikompilasi ulang supaya mendukung wifi.

Lalu jika wifi sudah didukung, yang perlu dilakukan adalah koneksi ke AP, misalnya aku mau konek ke AP dengan essid "wifi-inhr", maka yang dilakukan adalah:
solie@myBox # iwconfig eth1 essid "wifi-inhr"
solie@myBox # iwconfig eth1 key s: atau
solie@myBox # iwconfig eth1 key HEXcode
solie@myBox # dhcpcd eth1
Langkah 2 dan 3 dilakukan jika AP menerapkan enkripsi, disini di langkah kedua, AP "wifi-inhr" menerapkan enkripsi ASCII biasa dengan 5 karakter sebagai password, maka pada iwconfig diperlukan kode s: untuk memberitahukan sistem bahwa kita menggunakan key berupa ASCII (string). Seperti biasa, parameter atau perintah-perintah diatas bisa dijalankan dalam satu baris.

Jika enkripsi yang dipakai bertipe HEXa, maka tidak diperlukan penanda s: seperti pada langkah ketiga.

Berikutnya mengeset IP address, hal ini biasanya dilakukan secara otomatis oleh AP atau router dibelakangnya, atau kalau DHCP server tidak disediakan, maka pengesetan IP bisa dilakukan dengan perintah ifconfig seperti biasa.

Pada beberapa distro, DHCP client bukan dhcpcd, namun dhclient atau dhclient3, sama saja.

Proses aqcuiring IP bisa lambat bisa cepat, namun jika terlalu lambat, matikan saja dengan ^c, lalu ulangi lagi.

Pada beberapa distro, proses koneksi ke AP sudah disediakan GUI-nya, namun dengan GUI kadang kita tidak bisa melihat proses dibelakangnya.

06 June 2007

Genius Pen G450 di Linux

Mouse pan genius type g-pen 450 ekonomis dengan ukuran 1024x768 piksel berjalan dengan smooth baik di Windows dan di Linux (Grafpup 2.0).

Di windows tersedia driver dan serangkaian utility untuk mengatur koordinat, sensitivitas dan fitur-fitur lain, misalnya pen gesture, hotspot, dll. Di Linux Grafpup justru kejadiannya lebih hebat lagi, soalnya tidak perlu setting apapun dan tidak perlu pasang driver apapun....!!!!!

Jika di Windows posisi mouse adalah absolute terhadap mouspad, namun di Linux sifatnya relatif sebagaimana mouse lainnya. Artinya, di Windows, jika pointer diarahkan ke pojok, maka kursor mouse akan langsung menuju ke pojok, jadi koordinat layar dipetakan ke koordinat pad.Di Linux perilaku
pointer terhadap pad seperti mouse pada umumnya, yaitu relatif, jadi pojok pad belum tentu pojok layar, sehingga user harus menggeser pointer ke tengah atau ke pinggir seperti operasional mouse.

Keuntungan sistem absolut, user lebih mudah mengendalikan pointer, karena dimanapun posisi kursor, ketika pointer menuju posisi tertentu, maka otomatis kursor akan berpindah ke sana.

Kerugian sistem absolut, oleh karena bidang pad yang lebih kecil dibandingkan layar, maka user seolah-olah dibatasi pergerakan pointernya di lokasi pad saja. Cara kerjanya lain dengan touchpad pada laptop-laptop itu, akibatnya agak susah untuk mengendalikan kursor, karena kursor langsung pindah ke posisi yang ditunjuk, sehingga untuk pekerjaan scrolling cukup menyusahkan.

27 May 2007

Setting AP dengan FreeSCO

Barusan setting AP untuk FKM dengan Senao multiclient bridge pinjaman dari Mas Ainul dengan FreeSCO. Bakar ke floppy, boot, setting, reboot, langsung jalan. Waktu yang diperlukan cuma 10-15 menit.

Settingan mencakup definisi alamat ethernet, servis yang dijalankan dan lain-lainnya. Beberapa catatan yang perlu diperhatikan:

Pertama, meskipun secara default Freesco 0.3.7 membawa modul rtl8139 secara default, ternyata di PC yang aku pakai kedua netcard tidak dikenali, maka perlu ditambahkan driver yang lebih baru, dan untungnya menambahkannya amat mudah, yakni dengan mengkopi file rtl8139.gz ke folder A:\drv. Oleh karena netcard rtl8139 adalah model PCI, maka perlu juga memasukkan modul scan-pci.gz ke A:\drv. Modul yang ditambahkan dari folder Freesco-037\modules-2.0.39\net\new-net.

Kedua, meskipun servis DHCP berjalan lancar, namun range IP belum ada, menurut petunjuk setting, mestinya ada pada advance network, tetapi setelah dicari-cari ternyata tidak ada atau tidak ketemu, maka tinimbang pusing langsung edit saja file /etc/dhcpd.conf dan tambahkan range-nya.

Keyjnote, tool presentasi OKE

Di Linux kadang kita kesulitan jika akan menghadapi presentasi. Mestinya presentasi bisa dilakukan dengan OpenOffice atau KOffice, namun jika keduanya tidak ada, maka beberapa akal bisa dijalankan, misalnya dengan browser firefox, dengan mengolah halaman-halaman HTML plus sedikit style dan script dari S5. Atau bisa saja presentasi dengan menggunakan PDF. Kebanyakan PDF reader sekarang bisa menjalankan mode presentasi, seperti Evince dan Adobe Reader tentunya.

Nah, efek-efek presentasi yang biasanya muncul jika menggunakan power point atau openoffice kadang tidak muncul jika menggunakan PDF (kecuali dengan beberapa cara). Untungnya sekarang ada software keyjnote yang akan menambahkan beberapa fitur penting supaya presentasi PDF kita bisa berjalan dengan penuh kesan.

Fitur-fitur pentingnya adalah efek animasi (random, kecuali diubah scriptnya), pemilihan slide (halaman) secara intuitif dengan menekan tombol TAB, highlite dan spotlight.

Untuk menjalankan keyjnote kita perlu memiliki card VGA yang mendukung OpenGL, paket PyGame, PyOpenGL dan segala dependensinya. Keterangan lebih lanjut silahkan simak di situsnya di atas.

Pemakai Windows malah lebih enak lagi, soalnya ada program py2exe yang membuat aplikasi keyjnote ini menjadi satu aplikasi siap pakai, yaitu cukup dengan download, extract dan seret file PDF ke ikon keyjnote untuk melakukan presentasi.

Pemakai Linux, jalankan saja script keyjnote dengan parameter file PDF.

Navigasi cukup mudah, yakni dengan tombol panah, klik kiri untuk maju dan klik kanan untuk mundur. Esc untuk mengakhiri presentasi. Tombol TAB untuk berpindah halaman, dan tombol SPASI untuk hilite mode.

Petunjuk singkat ada pada file demo yang disertakan....

13 May 2007

Hibernate di Feisty + LBS6110

Beberapa minggu memakai Fesity Fawn dan Debian Etch, beberapa masalah muncul: Jika di Etch hibernate (to disk) sakses berat dan selalu aku pakai setiap kali mengoperasikan laptop, tetapi di Ubuntu hibernate tidak sukses sama sekali.

Software hibernate sudah diinstall (sudo apt-get install hibernate), namun ketika perintah hibernate-disk dijalankan, tidak nampak tanda-tanda sukses. Laptop menjalankan beberapa rutin, misalnya unload modul ini-itu dan ada aktifitas menyimpan ke harddisk (swap), namun setelah agak lama malah mati. Harapanku adalah ketika kembali dihidupkan langsung merestore data/proses dari swap, namun ternyata sistem masuk ke login seperti biasanya...

Akhirnya setelah cek sana-sini ubah sana-sini tidak berhasil, googling dan nemu link ini: http://blog.paulbetts.org/index.php/2007/02/11/fixing-software-suspend-hibernate-with-uswsusp-in-ubuntu-feisty-and-edgy/

Ternyata disitus tadi yang dipakai adalah uswsusp atau software suspend versi lama (yang baru adalah modul kernel suspend2). Maka setelah menjalankan apt-get install uswsusp dan cek dengan s2disk, ternyata sukses hibernate. Aku coba pula dengan suspend ke RAM dengan perintah s2ram, dan juga berjalan lancar.

Dari sini aku ingat bahwa parameter untuk restore data proses dari swap, untuk suspend2 adalah resume2=swap:/dev/hdaX, dengan X adalah nomor partisi swap. Jika memakai kernel 2.6.20, maka hdaX menjadi sdaX. Hmm, mungkin ini juga yang menjadi masalah, soalnya sebelum install uswsusp, parameternya masih resume=/dev/sdaX... ntar coba lagi deh.

05 May 2007

GNU/kFreeBSD testing

Awalnya aku berharap banyak pada system GNU/Debian plus kernel FreeBSD. Soalnya system FreeBSD plus KDE lebih cepat jalannya dibandingkan dengan Linux plus KDE, berikut beberapa tool web developer standar (apache, mysql/pgsql, php/python/ruby).

Namun setelah download CD installer dan melakukan update sana-sini, ternyata system berjalan secara lambat, entah kenapa, padahal sistem lainnya berjalan dengan cepat (Debian Lenny, Feisty Fawn, PC-BSD (FreeBSD 6.1) dan Zenwalk 4.4). Windows standar saja dan nggak pernah dibuka, apalagi setelah sakses menginstall IE6 di Linux.

Sekarang aku pingin mencoba lagi OberonOS yang dulu pernah tak install di PC. Systemnya unik, bukan CLI atau GUI, namun TUI, atawa Textual User Interface. OberonOS bisa masuk ke mode grafis, klik mouse pada kalimat tertentu akan mengeksekusi program yang berkaitan, sehingga konsol tidak diperlukan, misalnya untuk menjalankan program calculator, cari saja kata-kata calculator dan tuliskan kata-kata Execute (atau apalah, lupa sih), lalu klik tengah pada kata Execute tadi, dan cling... program calculator akan dieksekusi...

Tapi ternyata sekarang FTP si Oberon nggak mau diakses tuh...