Showing posts with label komputer. Show all posts
Showing posts with label komputer. Show all posts

13 November 2009

Opera Unite yang Asyik

Opera Unite ternyata memang top banget. Cuma dengan modal Opera 10.10 beta, kita bisa melakukan banyak hal secara jaringan. Mulai dengan serving halaman statik, dan bahkan dinamik, sharing file, dropbox, media streaming, hingga chat online. Aplikasi-aplikasi sudah mulai banyak tersedia untuk unite ini, dan dipastikan akan terus bertambah.

Berikut contoh tampilan aplikasi Fridge (note):

Prinsipnya, operasi klien-server dapat ditangani oleh Browser Opera. Misalnya dengan aplikasi web proxy, kita bisa menyajikan halaman dinamis di komputer lokal kita ke seluruh penjuru dunia. Asyiknya, klien di ujung dunia sana tidak harus memakai Opera browser. Tadi malam sudah aku coba berbagai fitur dan aplikasi Unite. Contoh menarik ya itu tadi, web server (statik) dan web proxy (dinamik), note (papan tempel), file sharing, dropbox, dan media streaming. Kecepatan akses tentu tergantung koneksi dong. 

Penerapan praktisnya? Banyaklah, mulai dari sharing file dadakan, hingga presentasi hasil kerja sementara, tanpa perlu unggah ke server, setting ini-itu, database, dsb. Beberapa aplikasi dapat disetting untuk private dengan password ataupun publik tanpa password.

Buat anda yang iseng ingin mengakses isi komputer yang aku share, coba kunjungi http://homac.solpro.operaunite.com, siapa tahu aku sedang online dan jaringannya cukup cepat untuk mencobanya.

Ochee, kita tunggu gebrakan Opera selanjutnya!

Update (13/11/2009-09:26):
Ternyata, di kantor dengan OS Linux Karmic dan Windows Xp, kedua-duanya dipasang Opera10.10b1, dengan masing-masing menjalankan Opera Unite server, ternyata satu dengan yang lain tidak mau berkomunikasi. Untuk diketahui, masing-masing komputer terkoneksi dengan jalur yang berbeda ISP-nya. WTF... Mungkin ada blocking proxy di level network central? Mungkin saja, karena port OperaUnite ada pada 8840, yang biasanya memang diblok karena sering digunakan untuk jaringan P2P.

31 May 2009

Jaunty: Nvidia GeForce4 MX 4000 (NV18) I/O Error Solved!

Recently installed Jaunty into my home PC (simple 2.4/80/1/128), succeeded, but the nvidia card needed some specific driver, if not I ended with plain 800x600 generic vesa mode. So, simply installed via synaptic the nvidia-96* packages. Rebooted, still no luck. It reported that /dev/nvidia0 couldn't be opened, because some input/output error. Googled, there were bunch of pages, but no pointer to some working solution. Visited ubuntuforum either, still no clue. Commonly just stated it's related with permission, user group, udev, etc. But no. I was root at that time, so no permission issue here.

Googled again, until I hit this link, and all was set correctly. The only difference is boot parameter: noapic acpi=off pci=noacpi. The xorg.conf itself doesn't change too much, except replace nv or add a line contains driver "nvidia".

29 April 2009

Kalyway 10.5.2 on AAO

Hackintosh kalyway terakhir sebenarnya versi 10.5.6, tapi berhubung aku dapatnya versi yang agak lawas, nggak apalah, lagian juga dapat minjem dari si aji.


Dulu sekali aku pernah install iAtkos v1 ke AAO, sebelum upgrade ke HDD, yang nyatanya lemot minta ampun, dan cuma bertahan 3 jam, lalu back to Blankon. Kemarin/tadi siang, installas berjalan cukup alot, pasalnya diskutil tidak bisa ngeformat partisi menjadi HFS, coba sana-sini gini-gitu, termasuk ubah partition ID dari jaunty, tetep tidak bisa.

Akhirnya, kembali ke konsole, jalankan fdisk -e /dev/rdisk0, lalu edit partition id-nya lewat sini. Kemudian baru diformat lewat diskutil. Nah, setelah itu  baru pilih paket-paket yang mau diinstall. Disini yang diuncheck adalah language yang nyaris sebesar 400MB sendiri. Paket lainnya cukup dibiarkan saja. Proses instalasi berjalan sekitar 40 menit.

Habis restart, banyak hardware yang tidak berjalan optimal, seperti audio, wifi, display cuma 800x600, and so on. Solusinya, donlot dan pasang paket paulswinddriveutilitypack.zip, cari saja pake mBah Google. Setelah itu, restart....

Sekarang ini, aku posting lewat Macosz yang ternyata lebih gegas dibanding Gnome+Compiz atawa Xp+Blind, mungkin nggak jauh-jauh amat selisihnya, tapi smooothnya itu loh!

Untungnya, N93-ku langsung terdetek, dan sedikit setting, jadi dah, indosat 3g menjadi saluran koneksi ke internet, belum nyoba gimana wifinya, tapi agaknya dari beberapa milis masih belum bisa, kecuali ganti card ke DELL 1390 (CMIIW), atau upgrade sistem ke 10.5.5 or ke 10.5.6 (pake Kernel voodoo dan beberapa tweak lain).

Tentang pelanggaran EULA, HAKI, OpenSource traitor? Hmm, jauh-jauh hari sebelum aku punya komputer, apalagi laptop, aku sudah menginginkan punya sebuah MACOS. Sekitar 15 tahun yang lalu aku membaca sebuah debat antara pengguna PC dan Mac, yang mana kemampuan mesin Mac jauh mengungguli kemampuan PC pada waktu itu, Kalo nggak salah ingat, dari pihak pengguna Mac adalah Peter Mc Nealy (atau salah kali tulisannya), kalau dari Windows (masih 3.1), kurang ingat ya, yang jelas gemuk, botak, brewokan. 

Nah, dengan demikian keinginan untuk Mac akan senantiasa ada, karena yang sekarang ini dipakai tetap BUKAN Mac, karena Mac adalah hardware dan software, dan terutama desain. Berhubung Mac masih belum affordable, yah, terpaksalah pakai Mac abal-abal dulu, lagian juga masih dipakai sebagai uji platform, yang mana kegiatan utama masih tetap di Jaunty sih...

25 March 2009

Praktikum OpenMeetings

Berhari-hari pusing download, install, download lagi versi lain, install lagi, berbagai versi Red5 dan OpenMeetings, namun juga tak kunjung sakses. Pesan error bervariasi, mulai dari 404, hingga 500, yang pada intinya aplikasi tidak bisa berjalan. Pada tahap akhir, installer sempat muncul, tetapi proses installasinya yang cukup lama, hingga bahkan hingga komputer hang, masih belum kelar.

Coba dengan pendekatan lain: download versi lengkapnya, extract lalu jalankan! Tidak perlu download Red5, karena sudah termasuk di dalam paket OpenMeetings.

Berikut langkah-langkah instalasinya:

  1. Download dan jalankan Xampplite saja. Jalankan dulu hingga yakin apache dan mysql berjalan, soalnya jika red5 sudah jalan, apache tidak mau berjalan.
  2. Lewat phpmyadmin, buat database kosongan bernama openmeetings
  3. Download dan install JRE/JDK 1.6
  4. Download openmeeting versi terakhir disini, yang komplete, bukan yang webapps only
  5. Extract openmeetings_xxx.zip
  6. Set JAVA_HOME lewat klik kanan my computer, properties, advanced, startup and recovery, environment variable. Klik new, tulis JAVA_HOME, lalu isikan nilainya dari lokasi JRE/JDK di program files.
  7. Masuk ke folder ekstrakan openmeetings, lalu jalankan red5.bat
  8. Buka di http://localhost:5080/openmeetings/install, ikuti prosedurnya, agak lama sih
  9. Selesai, masuk ke aplikasi, daftar dan login.
Pada mesin Linux, mestinya langkahnya sama saja, cuma karena sedang berada di kantor, dan kebetulan memakai laptop kantor yang belum ada linuxnya.

Update:
Ternyata dengan metode kopi-paste, aplikasi OpenMeetings sakses dijalankan di AAO Linux, dengan sun-java-jdk 6, extract dan run red5.sh, langsung jalan dengan lancar. Berikut adalah cuplikan gambarnya:

Video dan audio dari WebCam dan Mic bisa masuk, tetapi di cuplikan tersebut fitur dimatikan.

19 March 2009

Installing XP tablet on Toshiba Portege 3500 (read: old laptop), without cd-rom, pcmcia, ufd, etc

A friend of mine [http://www.facebook.com/profile.php?id=1095844680] has difficulty to install his portege 3500 with Win XP tablet, because he doesn't have any PCMCIA card for cd-rom or external HDD. I provided my external USB DVD, but it can't boot from USB, it event didn't recognise external USB anyhow. We've tried many ways [like installing WinXP via another laptop, choose second hdd as target, but when it moved into the original portege, it didn't boot], but still no luck, until I found a new way. Here's the howto:

  1. Find any linux machine with qemu installed.
  2. Find (original) WinXP master CD.
  3. Find any USB2IDE, for mounting portege's hdd into the #1 machine.
  4. Find DOS iso, for example DOS71 install cd or FreeDOS install cd.
  5. Fire up qemu with the command: qemu -cdrom DOS71.iso -hda /dev/sdb -boot d [ENTER], change DOS71.iso with your own dos iso, and sdb with your external hdd (find out via dmesg command form console).
  6. Just follow the steps to install DOS
  7. Finish installing DOS, mount hdd, and copy folder i386 from WinXP master CD into, say, C drive. Here we have 2 discs, because it's WinXP Tablet edition
  8. Unmount external hdd, then remove hdd from USB2IDE, and put back the hdd into portege.
  9. Boot portege with DOS installed. Go to folder i386 which have been copied before, and run winnt.exe
  10. Wait the installation process, it takes about 2 hours or more.
So, to make the long story short,all we need is just install DOS first, and then install WInXP from DOS. The problem here is the portege itself cannot boot from USB external media, it just boots from PCMCIA, so we need Qemu to install DOS.

03 March 2009

Catatan HDD Replace on AAO

Posting terakhir adalah tentang upgrade harddisk AspireOne 8 Gig SSD, menjadi SATA 2,5" 160 Gig. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Mengupgrade AAO, berarti garansi akan hilang, karena semua penyangga di casing AAO pada mana harddisk berada akan dibersihkan (dipatahkan), supaya harddisk bisa masuk ke AAO. Lagipula, stiker garansi yang menjaga lubang-lubang screw otomatis akan rusak.
  2. Backup sistem/data dari SSD ke harddisk yang baru, ini akan sangat menghemat waktu nantinya ketika harddik sudah terpasang, karena menginstall sistem operasi baru, terlebih memasang aplikasinya adalah pekerjaan yang membosankan. Untuk sistem Linux, maka cukup kopi-paste semua folder di /, kecuali mnt, media, proc, sys, srv, tmp, karena folder-folder tersebut dinamis isinya. Untuk sistem Windows atau Mac, bisa memakai Ghost atau partimage. SSD yang lama tidak akan digunakan, karena tempatnya tidak ada, meskipun slotnya masih utuh tidak terpakai.
  3. Cari harddisk SATA yang teruji kualitasnya, karena letaknya nanti didalam laptop akan sangat sempit, dan langsung akan menghadapi goncangan yang sumbernya dari bawah laptop (bila ada goncangan).
  4. Pastikan ketrampilan menyolder cukup OK, karena yang akan disolder adalah titik-titik konektor SATA di harddisk yang susunannya lumayan kecil serta berdekatan antara satu dan lainnya. Sediakan waktu secukupnya untuk berlatih menyolder PCB yang kecil-kecil, misalnya motherboard bekas, CD-ROM rusak, dll. Setelah beberapa kali mencoba dan lancar, barulah menyolder motherboard AAO. Gunakan solder yang panas, sekitar 60 watt, karena kemarin memakai 40 Watt ternyata kurang lancar penyolderannya. Sebaiknya titik-titik SATA di MB dibersihkan atau dikikis terlebih dahulu. Sediakan juga pasta solder dan timah yang baik.
  5. Guna keamanan harddisk (garansi)), beli saja konektor SATA (data dan power), lalu ambil ujungnya saja, ganti dengan kabel kecil-kecil biasa, jika tidak, maka tempatnya akan kurang, harddisk tidak bisa masuk. Sebenarnya bisa saja menyolder langsung dari MB ke Harddisknya, tetapi tentu saja garansi harddisk akan hilang.
  6. Panjang kabel konektor dari HD ke MB jangan terlalu panjang, karena jika dilipat dan mengenai harddisk, akbiatnya ketebalan harddisk meningkat, dan akibatnya casing laptop tidak bisa ditutup rapat. Hasil praktikum kemarin, panjang kabel dari 4 cm, dipotong hingga cuma 1,5 cm, jadinya pendek sekali. Kalau bisa, lebih bagus lagi bila mendapatkan konektor SATA yang kaki soketnya cukup panjang, sehingga bisa langsung disolderkan ke MB tanpa perlu kabel. Cara lain adalah membongkar konektor dari external Harddisk.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa posisi harrdisk nantinya menempel rapat di MB, karena itu panjang kabel cukup 1,5 cm saja. Konektor SATA yang dipakai bisa dibeli dari toko komputer biasa. Konektor tersebut memiliki kabel yang panjang, sehingga perlu dipotong secara hati-hati hingga menyisakan ujung-ujungnya saja.

Kaki-kaki yang dipakai:
  • Data: 6 kaki, mulai dari 1-6 (Gambar diatas, paling kiri adalah no. 1)
  • Power: 6 kaki, 7-8-9 (ground) dan 10-11-12 (5 VDC). Satu kaki power memiliki 3 cabang, sehingga cukup memakai 2 kaki yang disambungkan ke MB.
Jangan lupa untuk memberi isolasi yang kuat di harddisk, karena nanti akan menempel di MB, misalnya memakai plastik bungkus anti static dua lapis bawaan harddisk dengan menggunakan double-tape, pada MB juga perlu diberi double-tape secukupnya untuk menempelkan harddisk.

Jika semua sudah selesai, pasang kembali RAM, MB+HDD, board anak (board yang lebih kecil), dan WiIF card. Pastikan ketebalannya sama seperti semula, Jika masih menonjol, ratakan sisa-sisa plastik casing yang sebelumnya dipotong.

Untuk pengujian, pasang semua termasuk keyboard, tapi jangan dirapatkan lebih duku, supaya jika ada masalah tidak bongkar-bongkar lagi. Hidupkan AAO dan cek di BIOS, apakah harddisk sudah terdeteksi.


Jika BIOS tidak melaporkan masalah, maka AAO siap dipasang kembali, dan lanjutkan proses instalasi, donlot, atau apapun. Suka-suka saja, karena HDD space sekarang bukan lagi masalah besar.

28 February 2009

Upgrading AAO 110 into AAO 150, success!

Basically, AAO 110 and AAO 150 are the same, except the later has bigger capacity of drive, because it uses SATA harddisk, while the first uses SSD (slow SSD, differ from Eee's SSD, which is rather faster). Indeed, even on slow SSD, my Ubuntu ME (Intrepid) run fast enough for coding or something, so why must I care for capacity?

The answer is I'm cool, dude :). Second, it's cheap. Third, it just a matter of soldering some wires into MB, and connecting R points to make the voltage higher enough to power the SATA HDD.

I bought AAO 110 for only Rp 3900000, or about 400 USD, while AAO 150 costs Rp 4900000 or about 500 USD (six months ago). I've try to install Xp and Iatkos, but the performance was so bad, way too slow, just not like my wife's Eee 900 (only has Dothan CPU and (4+8) Gig of SSD).

Yesterday I just bought SATA HDD 160 Gig for only Rp 540.000, or about 56 USD. My plan was to make it as external storage. By accident, I found an AspireOne hack from russia, that hack was successfully replace the slow SSD with the fast SATA HDD 2.5"! My AAO is now 3900000+540000, or Rp 4440000, or precisely Rp 4450000, 10000 for SATA connector cables (data dan power cables). So, the cost for soldering and dissassembling is about Rp 450000. Come here, fren, I can do that for you too, with that cost of course :p

So, making external storage was history, and now, it's become my main storage.....


Clear enough to read that my disk is now Fujitsu 160 Gig, yay!

Here's the inspiring link: aspire1.ru/news/2008-11-21-12

18 November 2008

Lite Web Server

Mengingat netbook AA1 menggunakan SSD yang performanya nggak begitu bagus, maka semua aplikasi dipilih yang ringan saja, termasuk untuk development, maka disini cukup dipasang geany, bluefish, kompozer, mysql dan lighttpd. Kemarin denger-denger ada web server yang ringan, yaitu nginx dan cherokee, keduanya ada di repo intrepid. Langsung apt-get install, dan dalam dua menit, semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Konfigurasi cherokee cukup mudah, karena sudah dilakukan secara web based, dengan terlebih dulu menjalankan cherokee-admin dari konsol.

Beberapa setting cukup unfimiliar, karena itu aku ambil jalan pintas, kopi paste dari default. Kinerja dari cherokee aku rasakan lebih cepat dibanding lighttpd untuk aplikasi yang sama.

Nginx, belum dicoba lebih jauh, cuma sebatas akses localhost saja

04 November 2008

Intrepid on AAO 110L

Sudah sebulanan aku ganti Eee 900 dengan AAO 110L. Awalnya Lontara remix yang aku pasang di Eee aku kopi paste ke AAO, dan semua berjalan dengan normal menggunakan kernel kompilasi khusus Eee yang disediakan oleh http://array.org

Setelah Intrepid launching, maka segera aku upgrade, error sana-sini, partial upgrade, karena bukan dari hardy, but lontara although both of them use the same repos. Akhirnya tinimbang repot, do fresh install wae.

Proses install amat lama, 3 jam kurang lebih, karena aku nggak memakai LiveCD, yang mana akan jauh lebih cepat, as a matter of copy and paste. Kalau memakai ubuntu installer standar, maka yang terjadi bukan kopi paste saja, tetapi konfigurasi masing-masing paket. Nah, jika jumlah paketnya ribuan, kebayang kan, berapa lamanya?

Nah lagi, aku sarankan, pakai saja model LiveCD!

Setelah semua berakhir, ternyata prosesnya aku rasakan jauh lebih gegas berjalan di Intrepid. Dengan kernel bawaan, ternyata driver wireless nggak ada lagi (ath5k), konon dicabut dari intrepid karena bermasalah pada beberapa mesin. Yah, kembali ke kernel Eee lagi deh.

Setelah masuk ke forum aces aspire one user, aku download custom kernel build for N270, khususon buat AAO, semuanya lancar, meskipun setelah stanby, speaker jadi mati, kalau mau dengerin musik atawa lihat film, harus pakai headphone atau external speaker. Tetapi kinerjanya memang memuaskan, booting cuma 10 detik, langsung masuk ke Xorg, tinggal login saja siap kerja. Oia, desktop aku pakai LXDE yang gegas dan dari tampilan cukup meyakinkan. Beberapa applet masih aku ambil dari gnome, misalnya power manager dan network manager.

Sempat bingung, karena dengan LXDE, semua font looks so ugly, misalnya di firefox, kalau font nggak kebesaran malah kekecilan. Pasang gtk-chteme setting font sendiri tidak membantu, pun juga dengan gtk-theme-switch, juga sami mawon: nggak ngefek. Googling sana-sini, akhirnya harus tweak userChrome.css manual, setting font dan ukurannya dengan dipaksakan. Hasilnya lumayan baguslah, tapi tetap tidak proporsional.

Openbox juga berperilaku sama, kalau nggak kebesaran ya kekecilan. ObConf cukup membantu sih, sampai akhirnya ketemu masalah utamanya: DPI di AAO memang tinggi, yakni 135 atau berapa gitu. Makanya, kuncinya adalah menyetel pada DPI 96 saja. Setelah DPI diturunkan, semua menjadi normal dan proporsional....

Aku memakai SLIM sebagai login manager, jadinya mengatur DPI amat gampil, cari saja di /etc/slim.conf, komentarnya amat membantu..

Partisi /home aku tetapkan pada SDcard 4GiB yang terpasang di card-reader sebelah kiri. Mestinya sebelah kanan, soalnya reader yang kanan baru mengenali card jika card ybs dimasukkan pada saat komputer boot. Suck juga sih, tapi karena jika memakai reader yang sebelah kanan SD card jadi menonjol, makanya aku pasang di sebelah kiri. Mungkin kalau pakai mini SD pas kali ya.

Katanya MMC/SD jika di standby akan tidak dimount, sehingga bisa merusak data, tetapi so far so good tuh. Sehabis standby, partisi /home tetap termounting tuh, memang USB flash disk dan card yang kanan tidak termounting, mungkin karena partisi /home ditentukan di /etc/fstab kali ya.

Anyway, so far so good, kapan-kapan aku bahas beberapa program yang aku install di AAO ini, dan space yang dipakai

06 June 2007

Genius Pen G450 di Linux

Mouse pan genius type g-pen 450 ekonomis dengan ukuran 1024x768 piksel berjalan dengan smooth baik di Windows dan di Linux (Grafpup 2.0).

Di windows tersedia driver dan serangkaian utility untuk mengatur koordinat, sensitivitas dan fitur-fitur lain, misalnya pen gesture, hotspot, dll. Di Linux Grafpup justru kejadiannya lebih hebat lagi, soalnya tidak perlu setting apapun dan tidak perlu pasang driver apapun....!!!!!

Jika di Windows posisi mouse adalah absolute terhadap mouspad, namun di Linux sifatnya relatif sebagaimana mouse lainnya. Artinya, di Windows, jika pointer diarahkan ke pojok, maka kursor mouse akan langsung menuju ke pojok, jadi koordinat layar dipetakan ke koordinat pad.Di Linux perilaku
pointer terhadap pad seperti mouse pada umumnya, yaitu relatif, jadi pojok pad belum tentu pojok layar, sehingga user harus menggeser pointer ke tengah atau ke pinggir seperti operasional mouse.

Keuntungan sistem absolut, user lebih mudah mengendalikan pointer, karena dimanapun posisi kursor, ketika pointer menuju posisi tertentu, maka otomatis kursor akan berpindah ke sana.

Kerugian sistem absolut, oleh karena bidang pad yang lebih kecil dibandingkan layar, maka user seolah-olah dibatasi pergerakan pointernya di lokasi pad saja. Cara kerjanya lain dengan touchpad pada laptop-laptop itu, akibatnya agak susah untuk mengendalikan kursor, karena kursor langsung pindah ke posisi yang ditunjuk, sehingga untuk pekerjaan scrolling cukup menyusahkan.

03 June 2007

QTparted suck!

Hmm, nginstall mini-pentoo 2006.1 (turunan gentoo) ke harddisk agar permanen, maka aku menjalankan pinstaller, yang kemudian menjalankan qtparted, yang kemudian aku resize partisi debian etch/lenny/sid yang mencapai 10 GB, yang kemudian proses berjalan lancar (boot installer dilewati, karena sudah ada), yang kemudian restart hingga selesai, yang kemudian debian dan feisty (hm, dua debian disatu laptop?) untuk sementara dianggurkan, yang kemudian aku tidak tahu errornya, karena grub aku pasang di partisi FAT32, yang kemudian baru tahu setelah mau kopi file ini-itu dari debian ke pentoo, yang kemudian ternyata semua partisi linux --mencakup reiserfs dan XFS-- tidak dikenali.

Kemudian aku masuk ke grafpup, yang kemudian menjalankan rxvt, lalu menjalankan reiserfsck, kemudian muncul komplain, yang kemudian aku jalankan prosedur standar recovery reiserfs, yakni reiserfsck --fix-fixable, yang kemudian memaksaku menjalankan reiserfsck --rebuild-tree, yang bahkan kemudian memaksaku menjalankan reiserfsck --rebuild-sb, Fcuk! Semua gagal, yang kemudian berarti semua data, koleksi, donlotan yang mencapai 7GB dari internet musnah!

Kemudian dari sini --tentu saja-- aku menyalahkan qtparted, yang mana pertama kali aku pakai langsung bermasalah, yang dahulu aku pakai gparted tidak bermasalah. Apalagi setelah googling, masalah yang sama terjadi pada beberapa orang, yang umumnya mengalami crash setelah memakai qtparted, atau setelah menjalankan resize-reiserfs, yang dulu aku memakainya namun juga lancar-lancar tuh...

Tapi untunglah, soalnya meskipun 7 GB itu donlotan semua, namun rata-rata adalah file-file paket *deb, yang mana tidak akan hilang selama internet masih ada, yang berarti mirror debian selalu hidup, yang berarti aku masih bisa mengambilnya dari sana. Data-data aku backup di FAT32 :p, meskipun sering dikuya-kuya, namun malah aman tenteram. Ini --tentu saja-- tidak otomatis membuat FAT32 --dan windows-- jempolan, karena minimnya interaksi dengan FAT32 itu maka ia jadi aman, lain itu nggak ada yang istimewa. Sama saja jika partisi linux lain nggak pernah disentuh atau dimount, atau diresize, selamanya juga akan aman

Kalau kau memakai Linux, amat jarang kamu tidak memanfaatkan space, amat jarang melakukan eksperimen ini-itu yang berujung bahaya. Namun meskipun seringkali diingatkan bahwa backup itu penting, aku jarang tuh melakukan backup :p --buang waktu saja :p

Kalau kau memakai Windows, amat jarang utak-atik sana-sini, paling jalankan aplikasi ini-itu, kena virus, data ilang, sama saja toh :p semua berujung bahaya :p

Pasti ada kesalahan peletakan/penggeseran blok ini semestinya disana, dan seterusnya, yang mana aku coba pakai partisi recover umum yang dikemas oleh HirenBootCD, namun ternyata juga gagal, hmm, nasib!

So, nggak pakai linux lagi? lho, apa hubungannya? Qtparted bermasalah ya biarin to, nggak usah dipakai, pakai lainnya, misalnya Gparted, atau cfdisk, atau malah parted sekalian (don't try/use this if you're under age!), bukannya seluruh sistem. Kalau baik hati, mestinya aku melaporkan hal ini ke developer qtparted, namun tampaknya kasus semacam ini sudah ada beberapa di milis, maka kemungkinan besar masalahnya sudah sampai ke si developer. Wong yang ngalami orang luwar negeri, lain dengan aku disini yang malah ngomel sendiri dan mutung nggak mau makai lagi :p

Pelajaran penting? Mungkin juga...

05 May 2007

GNU/kFreeBSD testing

Awalnya aku berharap banyak pada system GNU/Debian plus kernel FreeBSD. Soalnya system FreeBSD plus KDE lebih cepat jalannya dibandingkan dengan Linux plus KDE, berikut beberapa tool web developer standar (apache, mysql/pgsql, php/python/ruby).

Namun setelah download CD installer dan melakukan update sana-sini, ternyata system berjalan secara lambat, entah kenapa, padahal sistem lainnya berjalan dengan cepat (Debian Lenny, Feisty Fawn, PC-BSD (FreeBSD 6.1) dan Zenwalk 4.4). Windows standar saja dan nggak pernah dibuka, apalagi setelah sakses menginstall IE6 di Linux.

Sekarang aku pingin mencoba lagi OberonOS yang dulu pernah tak install di PC. Systemnya unik, bukan CLI atau GUI, namun TUI, atawa Textual User Interface. OberonOS bisa masuk ke mode grafis, klik mouse pada kalimat tertentu akan mengeksekusi program yang berkaitan, sehingga konsol tidak diperlukan, misalnya untuk menjalankan program calculator, cari saja kata-kata calculator dan tuliskan kata-kata Execute (atau apalah, lupa sih), lalu klik tengah pada kata Execute tadi, dan cling... program calculator akan dieksekusi...

Tapi ternyata sekarang FTP si Oberon nggak mau diakses tuh...

07 March 2007

Tangkap Sesi dengan pyVnc2Swf

Mungkin kita perlu melakukan penangkapan sesi desktop dan merekamnya kedalam format video, sehingga orang lain yang memerlukan dapat melihatnya secara nyaman. Di windows terdapat banyak sekali tool penangkap layar, misalnya snagit.

Di Linux ada beberapa tool serupa, misalnya Istanbul dan Wink. Istanbul merekam sesi desktop dan merekam ke formal viedo theora, sedangkan wink merekamnya ke dalam format Swf. Kedua program berjalan secara di desktop yang sama, sehingga jika komputer tidak bagus kualitasnya, maka proses kerja di desktop serta perekaman sesi menjadi tersendat-sendat. Solusi yang jitu adalah dengan merekan sesi desktop dengan bantuan vnc server dan vnc client.

Ada beberapa tool pengubah vnc ke swf, antaranya adalah vnc2swf, dimana program vnc2swf itu sendiri menjadi klien vnc. Aku lebih suka dengan pyVnc2Swf yang digawangi oleh Python, karena memang fungsional. Klien vnc menghubungi server vnc, lalu pyvnc2swf merekamnya kedalam format SWF. Jadi klien dan perekam berjalan terpisah.

Jika dibandingkan dengan istanbul dan wink, perekaman lewat vnc ini jauh lebih cepat, dan hasil tangkapan otomatis dibuatkan file HTML-nya, sehingga siap untuk dipublish ke server Web.

18 January 2007

Dia for Windos

Postingan ini sebenarnya serangkai dengan postingan lalu, yakni aplikasi portabel under windows. Beberapa aplikasi berbasis GTK tidak bisa berjalan dengan mengeluarkan fatal error. Aplikasi dimaksud adalah Dia (mirip Visio) dan Gaim (messenger), baik yang portabel maupun yang perlu diinstall.

Dari pesan kesalahan, diketahui bahwa masalahnya ada pada libcairo-2.dll yang ada di folder program files\common files\GTK\2.0\bin\. Aku coba-coba timpa file itu dengan file libcairo-2.dll lain yang diambil dari aplikasi lain (kayaknya GTK-2.0 for windows yang versi lama, yang jelas ukurannya 328 KB), dan setelah menjalankan ulang Dia dan Gaim (portabel), keduanya berjalan dengan mulus.

12 January 2007

Aplikasi Portabel

Oke, barusan nginstall windos karena crash dan lewat berbagai cara biasa gagal, males untuk utak-atik.

Biasanya orang males nginstall ulang windos karena otomatis nantinya ia juga harus reinstall aplikasi-aplikasi lainnya (mestinya repair, namun apa lacur, masternya adalah XP SP3 buatan Egyptian hak, jadi model unattended installation). Masalah lagi, CDnya error tengah jalan, namun untungnya bisa dilanjutin dengan CD bajakan lainnya.

Aku sih nggak kuatir reinstall ini-itu, soalnya aku banyak memakai aplikasi portabel yang nggak perlu (re/un)install. Cek saja di www.portableapps.com. Aku juga memakai portable Opera yang bisa didownload di www.opera-usb.com.

Firefox dan Opera banyak memiliki add-on/widget yang menarik dan bermanfaat, antara lain adalah untuk keperluan menulis (Deepest Sender, firefox dan True HTML Editor, opera) dan juga beberapa widget lain. Kenapa perlu menulis lewat browser? Ya karena tidak perlu menjalankan lain aplikasi yang berat dan kompleks, soalnya dokumen yang ditulis juga tidaklah kompleks (tentu lain jika yang menulis adalah ilmuwan yang berkecimpung degan banyak rumus yang amburadul dan semriwut, LaTeX jagoannya. Word? No rules!)

Agaknya dengan HTML sudah cukup, dan jika menginginkan format lain, Oom Google bisa dimintai bantuan mengkonversikannya. Caranya cukup dengan memiliki account gmail, dan kita mendapatkan banyak hal gratis yang menakjubkan (Meskipun harus bermodal internet). Namun, untuk menulis kita bisa menyimpannya secara lokal, nanti dapat diupload kalau ada waktu dan butuh :p

Hmm, apapun OS-nya, yang penting jangan pakai Internet Explorer!

05 January 2007

Mac OS 9.2

Barusan buka-buka iBook dengan MacOS 9, hmm, lumayan, tapi sudah diduga bagaimana tampilannya, karena hampir semua tampilan GUI di dunia komputer ada (dibuat) di Linux :)

Permasalahan adalah beberapa file (XLS, DOC) tidak dapat dibuka. Well, aku coba-coba buka lewat aplikasi (File-Open, dst), dan juga lewat explorer (?), beberapa memang bisa, dan beberapa tidak bisa. Pesannya adalah read only, atau file ybs ada di jaringan. Setelah kutak-katik beberapa lama, akhirnya kusimpulkan yang bermasalah adalah harddisknya.

Oke, aku coba scan pakai Norton Disk Doctor, dan berjalan lambat.

Pointnya adalah, meskipun memakai Mac, dan juga asli orang bule, semua tetap nggak bisa lepas dari Microsoft., padahal menjalankan word atau excel di Mac tidak lebih mudah tinimbang menjalankan File Maker, atau OpenOffice.

31 August 2006

Mac OSX 10.2.3

Kemarin dulu malam aku berkesempatan mencicipi laptop Mac, dengan sistem operasi MacOSX 10.2.3. Masalahnya, laptop tidak mau konek ke ISP langganan yang sebelumnya bisa, tetapi tetap bisa konek lewat Telkomnet Instan.

Setelah setting sana-sini with no luck, aku coba telkomnet, lalu lewat sherlock aku cari masalah yang serupa, dan ternyata memang Mac versi dibawah 10.3 bermasalah dengan beberapa ISP, disitu dicontohkan ISP dari Aussie dan Skandi, aku kira masalahnya sama dengan Idola (ISP yang sebelumnya dipakai). Solusinya tentu upgrade Mac-nya, setidaknya ke versi 10.2.5, tapi tentu tidak bisa kulakukan, soalnya yang empunya laptop sedang di Belanda sono.

Meskipun Mac, tetapi aplikasi yang dipakai kulihat berbau Windows, antara lain MS Office 2001 dan MS Entourage (Email client), juga Internet Explorer!

Aplikasi lain, semacam adobe photoshop, quark, dll malah yang diinstall yang versi untuk Mac classic (versi 9).

Secara keseluruhan, setelah merasakan banyak versi Unix/Linux, ternyata main di Mac tidak terlalu luar biasa, baik kemudahan maupun tampilannya. Tapi memang, sejak awal boot, tidak ada konsol sedikitpun, adanya malah layar gelap, terus masuk ke boot proses (logo apple), lalu ke window manager. Untuk laptop sekelas G4 (800 sekian magaan) dengan ram sebesar 128 plus 512, kinerjanya terhitung biasa saja, nggak cepat-cepat amat. Anyway, tetap aja pingin sebuah mesin Mac....